AYUDARA
Kamu adalah gema dalam merah pekatnya
darahku. Kamu menyala-nyala dalam ruangan 3x4 meter persegi ini. Bekas lipatan
selimut tergambar jelas di raut wajahmu yang lunak. Angin dingin. Kamu selalu
ingin. Ingin keluar dari pelukan. Ingin menghindar dan bermain petak umpet
denganku. Kamu tahu? Kamu adalah satu di bumi. Ini bukan hiperbola. Hanya
metafora.
Udara pagi terasa hangat tapi
menyejukkan. Minggu pertama di bulan ini, Juli. Seorang wanita dengan paras
menggoda duduk tersenyum-senyum sendiri di teras rumahnya. Sambil minum teh dan
makan kue lapis legit—favoritnya—ia bersenda gurau dengan angin kosong yang
membisikkan cerita jenaka. Tak terasa
waktu tanpa menunjukkan punggungnya berlari begitu saja. Ia tak segan-segan
melepaskan sabuk pengaman untuk berlari sekencang-kencangnya. Meninggalkan ia
bersama angin kosongnya. Sudah terik rupanya. Ia langsung berdiri meninggalkan
cangkir yang semula terisi, kemudian kosong, kemudian terisi lagi—koloni
serangga pekerja ternyata lebih tertarik pada manisnya gula daripada manisnya
wajah wanita itu. Tentu saja.
Beberapa
menit berselang, ia keluar rumah. Dengan pakaian rapi, ia segera mengunci rumah
kontrakannya yang minimalis itu. Kaus merah muda. Rok mini super ketat. Tas
merk ternama. Kacamata hitam. Ia berlalu dengan ditemani angin kosong yang
mungkin selalu menceritakan lelucon kepadanya setiap waktu karena sepanjang
jalan ia hanya tersenyum-senyum sendiri.
***
Ayudara.
Aku bukan wanita. Entah jin apa yang merasuki tubuh ibuku ketika ia memberiku
nama seperti itu. Aku dilahirkan dengan penis, bukan vagina. Tapi namaku
Ayudara. Lucu terdengar. Pahit terasa.
“Nak, ibu ingin kamu menjadi wanita yang kuat dan
tangguh. Bukan seperti ibumu ini.”
“Tapi aku laki-laki, Ibu.”
“Oh ya? Ibu lupa.”
“Hah?”
Itu
adalah sekian kalinya ibuku menyatakan bahwa aku adalah anak perempuan. Aku
bukan perempuan. Sekali lagi, aku bukan perempuan. Ibuku ini memang—aku takut
dikatakan anak durhaka jika aku menyebutnya aneh—unik. Aku lahir sendiri. Tanpa
ayah. Hingga sekarang pun aku tidak tahu siapa ayahku. Ibu berkata bahwa ayahku
sudah lenyap terhempas angin. Angin kosong.
Aku
selalu ingin tahu kenapa ibuku menamaiku Ayudara. Nama yang terlalu manis bagi
seorang laki-laki. Tubuh dan jiwaku laki-laki, tanpa ada tanda-tanda
penyimpangan satu senti pun.
***
“Ayudara
sayang. Aku mau dong menyusu ‘ayudaramu.”
Gelak tawa besar menggema di sebuah
ruangan kelas di sekolah menengah Biasa di Jakarta. Ayudara memang tak semanis
namanya. Ayudara tak berpayudara. Teman sekelasnya selalu mengejek namanya dan
terkadang pelecehan seksual pun harus diterimanya. Ia hanya mematung dalam
cemoohan itu. Tak ada kata. Tak ada upaya. Sebuah nama yang paling kejam untuk
seorang manusia, pikirnya. Namanya menggantung, merobek-robek, dan mencincang
harga dirinya menjadi kepingan-kepingan malu tak terurai.
Seragam
putih abu-abunya kini basah. Pada jam istirahat, teman-teman pria sekelasnya
menyiramnya dengan sperma yang dikumpulkan dari masing-masing penis menjadi satu.
Itu bukan kali pertama. Ke sekian puluh kalinya. Ayudara memang menjadi bahan
cemoohan orang-orang sekitar sejak ia masih kecil. Bahkan ia mengutuk
kelahirannya sendiri. Ia ingin menangis. Bukan karena Ayudara adalah namanya.
Dunia yang menghakiminya berdasarkan pengetahuan konstruktif itulah yang
membuatnya mengutuk semua ini.
***
Aku
benci laki-laki. Aku benci melihat taring tak terlihatnya yang selalu menghisap
dayaku. Aku benci melihat peluhnya yang selalu membasahi dadaku, tubuhku. Aku
benci erangan sumbangnya yang selalu terngiang di setiap malam gelapku. Aku
benci laki-laki atas apa yang mereka lakukan kepadaku.
Sejak
duduk di bangku sekolah menengah pertama, aku telah menjadi primadona sekolah.
Itu bukan gelar bangsawan yang dihormati khalayak. Itu sebuah kutukan. Setiap
hari aku menerima pesanan. Delivery order
siap 24 jam. Aku ayam sekolah—bukan ayam kampus, tentunya. Mulai dari hotel,
rumah kosong, hingga kelas kosong pun telah menjadi tempatku menjalankan jasa
servisku itu.
Sudah
25 tahun aku begini. Persetubuhan bukanlah persejiwaan. Aku bersetubuh tak
pernah bersejiwa. Lenguhanku hampa tak berasa. Orgasmeku membawaku terjun ke
palung laut yang tak berdasar, bukan membawaku terbang ke nirvana entah ke
berapa. Hidupku memang dari dulu sudah seperti itu. Bersetubuh tak bersejiwa.
Melayani tubuh-tubuh tanpa jiwa yang haus akan reaksi kimiawi hormon
binatangnya.
Biasanya
aku pakai kondom ternama. Tapi kali ini pelangganku minta langsung. Bebas
kondom. Bebas keluar masuk. Gerah katanya. Tak suka ia pakai karet sintetis
itu. Aku jadi takut. Takut spermanya tanpa permisi masuk ke lorong ovariumku.
Membuahi telurku. Aku belum siap. Aku takkan siap.
“Tenang
saja, aku bisa kontrol spermaku supaya keluarnya di luar ‘kok.”
Ku
percaya. Tipu muslihatnya. Entah apa yang merasukiku pada saat itu. Aku
mengangguk tak berdaya. Desahan pendek. Desahan panjang. Nafas berat. Peluh
membanjir. Erangan singkat. Erangan panjang. Tempat tidur bergoyang menambah
irama sumbang adegan di sebuah tempat tidur tua. Kami berdua orgasme pada saat
yang sama. Tetap tak bersejiwa. Aku lupa. Ia tak mengeluarkannya. Penisnya
begitu lama di dalam. Kusadari kemudian, cairan hangat masuk ke dalam rongga
perutku. Rahimku.
Pergi.
Ku tahu ia tak kembali. Seperti pelangganku yang lain yang datang tanpa permisi
dan pergi tanpa pamit. Meninggalkanku bersama waktu yang berjalan begitu
lambat. Menambah dramatisasi saat-saat penungguanku. Positif atau negatif.
Dunia
tiba-tiba menggelap. Entah berapa lama kemudian, bilik rumah sakit tua yang
berbau usang dan terlihat anyir menyambut saat pertama ku membuka mata.
Sungguh, inderaku pun telah bercampur aduk. Merusak sistem indera yang satu
dengan yang lain.
“Positif?!”
Dunia
mengutukku kali ini. Entah mengutukku karena kesalahan masa lalu. Atau justru
mengutukku karena aku membenci salah satu penghuninya, laki-laki. Dengan
langkah gontai ku meninggalkan rumah sakit itu. Rumah sakit di mana ku
menemukan kenyataan getir yang harus membebaniku selama 9 bulan, dan bahkan
lebih dari itu—seumur hidup.
Memang,
aku mengandung. Tapi aku tidak akan pernah mau menjalani hidupku bersama
manusia yang bernama laki-laki, sekalipun itu anakku kelak. Namun, itu menjadi
bumerang untukku. Aku melahirkan seorang laki-laki. Manusia yang paling aku
benci. Tapi aku masih berhati nurani. Aku tak mungkin membuang bayi mungil dan
tidak berdosa ini. Aku rawat dia. Bukan sebagai laki-laki. Perempuan. Ayudara.
***
Seorang
pemuda duduk di bangku taman di sebuah kampus Biasa di negeri ini. Memandang ke
satu sudut. Tanpa berkedip. Tidak biasa, matanya tajam dan siap menghunus orang-orang
di sekitarnya. Ia mematung. Tidak bergeming. Alam menyulapnya menjadi manusia
batu. Stagnan.
Matanya
masih memandang lurus ke depan. Tetap tak bergeming. Sekitar 10 meter di
depannya, ada segerombolan wanita. Wanita-wanita populer di kampus Biasa ini.
Namun, ada sesuatu yang aneh. Matanya memang memandang lurus ke arah kelompok
itu. Tapi lensa matanya memipih. Sesuatu yang lebih jauh rupanya yang telah
menariknya ke dalam sebuah stagnansi.
Seorang
wanita duduk di bangku taman lain yang berhadapan dengan pemuda ini.
Berhadapan. Namun berjauhan. Ada reaksi yang aneh dari mata pemuda ini. Sebuah
reaksi kimia yang melibatkan hormon endorphin. Darahnya berdesir kencang.
Jantungnya berpacu. Namun seketika lemah. Tak berdaya. Mungkin itu yang banyak
orang katakan. Jatuh cinta.
Alex—pria
misterius yang digandrungi banyak wanita di kampus Biasa ini—tidak pernah
mengenal kata cinta. Sudah banyak wanita yang datang dan pergi tanpa sempat
berdiam sedetik pun dalam kehidupannya. Ia tak pernah membiarkan satu wanita
pun mendekatinya. Ia benci wanita. Makhluk teregois di dunia, katanya. Di luar
semua itu, Alex merasakan sesuatu yang tidak biasa. Yang tak pernah terjadi
seumur hidupnya. Yang sebisa mungkin dihindarinya. Yang pada akhirnya
membuatnya takluk pada hal yang sangat dibencinya. Memang antipati tak pernah
berbuah manis. Alex dengan segala dunia misteriusnya itu bergolak. Jatuh cinta.
***
Di
sebuah rumah kontrakan seluas 3x4 meter persegi terdengar suara erangan. Tempat
tidur yang sudah tua berdecit dan bergoyang. Peluh, sperma, lubrikasi vaginal.
Bergumul jadi satu. Saling mengikat dalam ruangan yang pekat. Saling
bercengkerama dalam waktu yang cukup lama. Kemudian berubah menjadi koloni
penghuni lorong sunyi.
Mereka
bercinta dengan cinta. Mereka bersetubuh dengan bersejiwa. Semua jadi satu,
bersenggama. Bukan waktu yang lama bagi mereka untuk memulai melakukannya.
Seminggu adalah waktu singkat yang menggiring mereka ke arah hubungan yang
sederhana tapi rumit. Hubungan tubuh mengawali semuanya. Alex berhasil
mendapatkan wanita yang telah membuatnya menjadi orang gila seminggu belakangan
ini. Ia berhasil membawanya ke dalam hatinya yang dulu dingin. Memeluknya ke
dalam tempat tidur yang menjadi awal sebuah hubungan. Satu di antara seribu.
Kisah yang orang pikir janggal, tapi kekal.
***
Pagi
menyapa. Kali ini dengan sinarnya yang tajam menyengat mata. Ada garis halus di
wajah lembutnya. Tidurnya pasti nyenyak sekali semalam. Selimut pun membentuk
bekasnya sendiri di wajahnya yang manis tapi sendu itu. Lipatan kasur pun tak
segan-segan meninggalkan jejaknya di lengan, kaki, dan dadanya. Tubuhnya tak
biasa. Indahnya yang tak biasa. Baru kali ini aku merasakannya. Ketika hati
bersama melalui bersenggama. Ketika rasa kagum dan cinta bergumul dan
bercengkerama melalui bercinta. Ketika jiwa merasa utuh melalui bersetubuh.
Semua adalah kali pertama.
Tak
lama setelah aku bangun, mata indahnya terbuka. Sungguh cinta memang buta.
Bukan karena aku tak bisa berpikir pakai logika. Tapi karena wanita di
sampingku ini menyilaukan mata. Menyala-nyala ia di tempat tidur tuaku ini.
Bukan karena cahaya matahari atau lampu kamar. Tapi pesona memancarkan
abstraksi bias sinar yang hanya dapat dilihat oleh makhluk yang sedang
kasmaran. Aku.
Bergegas
ia merapikan diri. Mengenakan pakaian. Langsung pergi. Aku ingin bercengkerama
dengannya lebih lama. Tapi waktu tak membiarkan hal itu terjadi begitu saja. Ia
terlihat buru-buru. Mungkin karena siang yang memburu. Tapi malam itu
segalanya. Mengubah hidupku untuk selamanya. Mengubah abu-abu sendiriku menjadi
warna-warni bersamanya. Jatuh cinta memang tak sebatas kata. Butuh rasa, tak
butuh data.
Ku
temukan dompet kulit merah mudanya di ranjangku ketika ku membereskannya.
Timbul penasaranku yang besar untuk membuka isinya. Jujur, aku belum tahu
namanya. Aku hanya memanggilnya gadis karena ku terlalu malu untuk bertanya
nama.
Sebuah
dompet yang membuatku terkejut. Jantungku berdetak akut. Di dalamnya terdapat
kartu. Kartu yang membongkar semuanya. Ternyata wanita ini adalah temanku di
sekolah menengah Biasa. Ada yang berubah. Tapi perubahan itu tak membuatku
luntur. Justru menyatukanku dalam sebuah struktur. Cinta.
***
Aku
pulang dengan gamang. Dia. Aku tahu dia teman sekolahku yang menyebalkan itu.
Salah satu di antara mereka yang melecehkanku. Menyiramku dengan sperma mereka
yang menjijikan. Entah apa yang terjadi. Aku tak ingin semua ini menjadi. Menjadi
rumit dan aku terjepit. Menjadi buruk dan aku terpuruk.
Aku
pulang dengan langkah gontai. Tak berapa lama aku sampai di rumahku. Aku
senang. Mendapat secercah sinar di dalam gelapnya lorong panjang. Aku bahagia.
Dunia membiarkanku di dalam rutinitasku yang selalu tersedia. Mereka tetap
setia. Aku sudah berubah. Tapi tak membuat mereka goyah.
Aku
boleh berpayudara, berpinggul besar, berpita suara lembut. Aku menjelma menjadi
hakikinya nama. Nama yang mengutuk. Tapi membuatku mengangguk. Mengiyakan bahwa
ini yang seharusnya terjadi. Bahwa ini adalah hal yang membuat sinkronisasi.
Bukan aku berganti nama. Aku menyesuaikan dengan nama.
Apapun
wujudku. Aku selalu punya teman setia. Secangkir teh hangat, kue lapis, dan
angin kosong temanku bercerita.
***SELESAI***
Comments
Post a Comment