Posts

Showing posts from 2013

Monas

Ah ku megah Indah berdebu Kuman juga tak lekang Dari mukaku tua nan usang Terpahat memancang ibu Sendiri tak ada peduli Bertikar bumi Berkelambu Langit; Ku kini Ku ini Masih Sendiri Teman mana peduli. Terima Langit Ayah Bumi Ibu Tanah Air; Cinta sekarang masih tegak sendiri walau angin semilir lirih hujan bertabur deras namun membawa luka nan perih Indonesia tidak berdiri tegak sepertiku Apa ku harus tumbang selayaknya? Karena hancur pun tak ada peduli Terbengkalai aku jadi bangkai Hingga ibu kota mati lapuk Menjadi kosong tak bermateri Ku lelah mengawasi; ku penat menatapi Indonesia tetapkah menjadi ironis dunia keji begini?

Jati

Pohon jati meranggas kala hujan Ia mengaduh duduk bersikukuh Tak ingin lekang tak ingin hengkang Ia kunci dari permata                    Pohon jati meratap tatap getir                    Hampanya tak terasa oleh traktor                    Tangannya beradu tak padan dengan sang penguasa                    Ia hancur tak tertata Sayap penguasa hancurlah Sebelum alam hancur kala kau berjaya Istana penyerakah runtuhlah Sebelum gunung-gunung menghantam rapat pepat                    Pohon jati tak ada    ...

Kamboja di Gurun Sahara

Cantik bersih si kamboja putih Menyeka debu si duri kaktus Wewangian bersambut gigih Dari lembutnya buat menagih                         Senja datang si bunga kamboja                         Tetap di dahan terpajang manja                         Putih menetap lekat berhangat                         Kamboja kini menutup rapat Sahara padang nan memesona Kamboja ada tak sepantas ia Karena panas membuat sirna Kamboja terpahat meyakin ia              ...

MALL

Atas nama tak kekal berdiri kokoh Wahai penggarap materi berjaya Lihat lahan landai terpelongoh Garapnya akan jadi kaya Mall indah apa indah? Saat ada tangis saat ada darah Darah hidup manusia nelangsa Tak ada empati kian merasa Berfoya ia merangkak di atasnya “Surga dunia” katanya Namun tak ada lagi saat air bah menyela Lelah alam menahan murka Tak ada lagi kata tapi bencana Menerjang kuman-kuman pendosa Memang manusia tak bertelinga Ditegur sudah tak sadar jua Bah pergi foya berlanjut Tak sadar alam yang merenggut Ironis sungguh manusia butut Mall indah tempat tak patut Tak patut bangun ia di atas tanah tak berdaya Tak patut megah di atas gubuk reot Lihat wajah itu wajah berdebu Sungguh mall itu mall tak patut

BANDUL

Bandul kanan goyang senang Lihat awan semakin kencang Hujan jauh masih beku Disana bulat masih kaku           Bandul kiri goyang sunyi           Malam kini sendiri sepi           Petang datang hidup membayang           Selimut tak lupa mengulit sayang Bandul jam Westminster Sebagai saksi waktu muter     Ter…ter…ter… Kedati perang begitu sunter Waktu lalu kini nanti Hingga bandul lelah mati Tik…tok…tik…tok…tik…tik Titik koma tak lagi berkutik Primordial tak lagi konkrit Waktu lagi kini sakit Bandul Westminster tak lagi berdetak berdetik Saat kala jadi musyrik

Gentong

Gentong di atas kursi Ia kosong ia bernyanyi ia nyaring Mendungu di bawah atap Hujan tak berkunjung Lesu… Bah berkunjung Dipikir berkah gentong sumringah Tengadah ia tertawa ia Nyanyian belang nyanyian sumbang Kenyang… Air berkah yang bencana Datang tak berundangan Serakah gentong di atas kursi Pecah ia jatuh tepencar Jatuh ia kepingan di teras Pecah…

EMAK…IA…KITA

Mak, ia pergi ia hilang ia tak kembali Ia pergi berjualan susu Tak akan ia kembali sebelum berada Walau hancur jiwa hancur sukma Mak, jangan pedih jangan sedih jangan getir Ia masih jujur masih mengemban nilaimu Ia tak menyopet, tak merampok, tak berbohong Ia hanya jual susu kepada pria Apa salah ia, Mak? Makan ia makan kita Dengan ia menjual susunya Lihat, Mak, datang ia tergopoh-gopoh Tak ada lagi yang bisa dijualnya Semuanya sudah terenggut sudah terpecut sudah terkuncup Emak… Pantas ia terima dipeluk kita Jangan emak bermuram kata bermuram muka Susunya adalah sesuap nasi untuk kita, untuk emak Peluk ia, Mak Ia datang dengan harap dengan asa Rengkuh ia sang jiwa pasrah itu, Mak Bahagia emak, sakitnya Damai emak, kucuran peluhnya……..

ANAK

Anak berkata itu dingin, itu pahit, itu getir Ketika anak melawan hujan melawan petir Tetap bangkit tetap berdiri Susur jalan susur sungai mandiri sendiri                 Aaa..…nak jangan hilang                 Jangan tenggelam jangan terbenam                 Angkasa masih menjadi tempat untukmu terbang                 Jadi tempat damai jadi tempat tenteram Anak berpikir ini hening, ini sunyi, ini sepi Ketika anak menghalau angin menghalau api Tetap kokoh tetap tegar Walau pandang kosong pandang nanar                 Aaaaaa…………..nak bangkit berdiri bangkit sendiri     ...

S M P R N A

akulah bunga; bangkai. gairah busuk dunia fana tapi nyata dipenuhi jiwa haus akanku. ya, aku pelita yang temaram menenggelamkan jiwa ke dalam pusaraku yang su- ram, hisap dan renggut jiwa - jiwa liar dan tak punya otak ini saja sudah membuatnya takjub dan gila. aku si bunga bangkai siapa kata aku semerbak? hidung berlendir dan kotor mengembang dan mengempis. mereka pikir aku menarik, cantik; lalu kutariklah ia ke pesonaku. kulahap habis jiwanya yang haus, lapar, liar, dan gila. kurobek jantungnya menambah koleksi bingkai dunia yang bobrok. lihat aku, masihkah kau ber- pikir aku pemuas kaummu  hai, para manusia aku ini bunga, bang- kai, kau pikir aku apa? aku tak sem- purna

AYUDARA

Kamu adalah gema dalam merah pekatnya darahku. Kamu menyala-nyala dalam ruangan 3x4 meter persegi ini. Bekas lipatan selimut tergambar jelas di raut wajahmu yang lunak. Angin dingin. Kamu selalu ingin. Ingin keluar dari pelukan. Ingin menghindar dan bermain petak umpet denganku. Kamu tahu? Kamu adalah satu di bumi. Ini bukan hiperbola. Hanya metafora. Udara pagi terasa hangat tapi menyejukkan. Minggu pertama di bulan ini, Juli. Seorang wanita dengan paras menggoda duduk tersenyum-senyum sendiri di teras rumahnya. Sambil minum teh dan makan kue lapis legit—favoritnya—ia bersenda gurau dengan angin kosong yang membisikkan cerita jenaka.  Tak terasa waktu tanpa menunjukkan punggungnya berlari begitu saja. Ia tak segan-segan melepaskan sabuk pengaman untuk berlari sekencang-kencangnya. Meninggalkan ia bersama angin kosongnya. Sudah terik rupanya. Ia langsung berdiri meninggalkan cangkir yang semula terisi, kemudian kosong, kemudian terisi lagi—koloni serangga pekerja ternyata le...

Sajak Hujan

Ini adalah sajak hujan sajak ini ditulis olehnya di atas pucuk daun di atas batu di atas tangan anak penjual koran aku tak pernah tau apa maknanya seperti apa bentuknya seperti apa rasanya hujan membuat lubang di atas batu membuat jejak di atas tanah membuat lukisan di atas daun hanya aku tak tahu hujan di atas tangan anak penjual koran karena ia bisu ia ingin berkata jika sanggup berucap ia ingin bersyukur bila sanggup mendekap namun hujan itu terus jatuh tanpa henti membiarkan sang anak letih tersungkur di atas jejak hujan di tanah membuat jejak baru abstrak tapi nyata hujan belum berhenti tanpa payung sang anak itu berdiri tanpa kasih anak itu berjalan atau mungkin...hujan itu adalah payung hujan itu adalah kasih yang tercurah kepadanya??? Ika Septianasari Tangerang, 5 Maret 2009

You and the Horizon

I see the blue Blue sky, blue I see another blue Blue sea, blue There is a line Neither separating nor unifying The cloud and the brine In harmony, they are colliding I smell the blue Blue scent, blue I kiss the blue Blue lips, blue There is a line Neither detaching nor attaching You and I In recklessness, we are melding Ika Septianasari Depok, 26 February 2012

You and I

No butterfly nor bird, No sentence nor word, No comet nor star, No line nor bar, That can define You and I. Ika Septianasari Depok, 24 February 2012

Timelicious

Slow and mellow It crawls around your fellow With no primordial No start, no end, that’s the deal Knocking on time No prime Point one single click Oops, it has gone, quick! Ika Septianasari Kuala Lumpur, 3 November 2010

The Fool Moon

Tonight I see you so bright, my love I see you, the moon, the full moon. When I see you half, my darling I think of you, the moon, the half moon. So warm to see you smile, my dear I touch you, the moon, the crescent moon. Oh, you fade, far away, my mystery I miss you, the moon, the dark moon. "Ah, you, the grandest beauty, You just shine in the dark, Borrowing the sun, yes its light, Ah, you, you the fool moon." Ika Septianasari Depok, 12 February 2012